SATWA LIAR
Anda mungkin akan mendengarnya lebih dulu sebelum melihatnya. Sesuatu yang berat melintas di atap, dahan bergerak lebih dari sekadar tertiup angin, lalu sunyi kembali. Hutan di belakang Bara Beach adalah rumah bagi sekelompok monyet dare (moor macaque), dan mereka hampir selalu ada di sana. Mereka bukan atraksi dan tidak ada yang memberi mereka makan. Mereka tinggal di sini, dan kamilah yang membangun hotel di tengah rumah mereka.
Mereka adalah monyet dare — Macaca maura — dan tidak ditemukan di tempat lain mana pun di dunia. Spesies ini hanya ada di semenanjung barat daya Sulawesi, dan berstatus Terancam Punah (Endangered): populasinya turun lebih dari separuh dalam tiga generasi. Kawasan jelajah spesies ini dimulai dari sini. Bukan dekat sini — persis di sini. Membentang dari Bonto Bahari, kecamatan tempat hotel ini berdiri, ke utara hingga Cekungan Tempe.
Ini mengejutkan bagi yang pernah bertemu monyet di Bali. Monyet-monyet ini pemalu. Mereka tidak belajar bahwa manusia berarti makanan, tidak mendekat, dan tidak meminta-minta. Berjalan mendekat dan mereka akan menghilang sebelum Anda sempat mengambil kamera. Begitulah seharusnya, dan lebih mudah hilang daripada dikembalikan. Monyet dare yang mulai mengaitkan manusia dengan makanan berhenti berperilaku seperti satwa liar, mulai muncul di tempat yang tidak seharusnya, dan akhirnya menjadi masalah bagi seseorang. Hal terbaik yang bisa kami lakukan untuk mereka adalah tetap tidak menarik perhatian mereka.
Tidak tertarik pada manusia bukan berarti tidak tertarik pada piring yang ditinggal begitu saja. Mereka cerdas, gesit, dan sudah banyak berlatih — dapur di sepanjang pantai ini dipasangi jaring kawat bukan tanpa alasan. Jadi: jangan tinggalkan apa pun di teras, patio, atau ambang jendela. Tidak semalaman, tidak juga saat Anda berenang. Barang itu akan hilang, dan Anda tidak akan melihatnya terjadi.
Makanan adalah masalah kecil. Sampah adalah masalah yang lebih besar — tidak semua yang dibuang di sekitar sini benar-benar terangkut keluar, dan bila berakhir di hutan, monyet-monyet dare akan mengaduknya. Ini salah satu alasan kami meminta tamu menyimpan sampah sendiri dengan rapat, bukan meninggalkannya begitu saja.
SATWA LIAR
Sejak 2019, peneliti dari beberapa universitas telah mempelajari spesies ini — bagaimana monyet dare hidup, berperilaku, dan berpikir, serta bagaimana melindungi hutan yang mereka butuhkan. Sebagian dari mereka menginap di Bira ketika sedang bertugas. Kalau Anda penasaran, tanya saja di resepsionis — kami senang membicarakannya.
Satwa liar Sulawesi tergolong unik bahkan menurut standar Indonesia. Di sekitar sini juga ada kuskus beruang — marsupial yang tinggal di pepohonan, sama sekali tak terganggu — dan babi hutan Sulawesi (Celebes warty pig), yang endemik di pulau ini dan punya keunikan sebagai satu-satunya babi selain babi hutan biasa yang pernah berhasil dijinakkan manusia.
Tak jauh di sebelah barat kami, menyeberangi Selat Makassar, membentang Garis Wallace. Alfred Russel Wallace pada tahun 1850-an menyadari bahwa satwa di satu sisi perairan ini nyaris tak ada hubungannya dengan satwa di sisi lain. Di sebelah barat: harimau, gajah, orangutan — Asia. Di sebelah timur: marsupial, kakatua — awal dari Australia. Pulau-pulau di antaranya, termasuk Sulawesi, akhirnya tidak masuk keduanya, dan disebut Wallacea menurut namanya. Itulah sebabnya pulau seukuran ini punya tujuh jenis monyet yang tak ditemukan di tempat lain, dan marsupial di hutan yang sama. Anda sedang berdiri di salah satu batas paling menarik dalam ilmu biologi, meski sebagian besar tampak hanya seperti pepohonan biasa.
Tanya saja di resepsionis, atau kirim pesan kapan saja — kami senang membahas monyet dare dan hutan tempat mereka tinggal.
Chat di WhatsAppKami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda di situs kami. Pilih Terima atau Tolak untuk menentukan preferensi Anda. Pelajari selengkapnya